FIB – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) mengadakan kuliah umum, tantangan dan peluang humaniora di era AI, Jumat (3/10) di Aula Prof. Mattulada. Kegiatan ini merupakan acara perdana, dalam rangka dies natalis FIB Unhas yang ke-65. Kegiatan akademik ini dipilih mengawali rangkaian kegiatan untuk menunjukkan komitmen FIB pada ilmu pengetahuan.
Tujuan moral humaniora bisa dilihat seperti apa tujuan awal humanities. Prof. Dr. Fransisco Budi Hardiman menyebutkan ada tujuh tujuan moral humaniora. “Dari tujuh itu, saya ingin menarik anda pada dua tujuan yaitu menghargai martabat manusia dan mencegah dehumanisasi,” ujarnya.

Penulis buku Aku Klik Maka Aku Ada ini melihat situasi saat ini antara manusia dan teknologi. “Era saat ini, dimana teknologi dan Artifisial Integence telah memojokkan kita pada situasi yg mencemaskan. Di era digital ini, mesin menjadi makin mirip manusia tapi sebaliknya manusia makin mirip mesin,” pungkasnya membuka kuliah umum.
Ia memulai dengan sebuah pertanyaan filosofis, bagaimana tubuh di era AI? F. Budi Hardiman lalu mengajak sivitas akademika yang hadir memenuhi ruangan untuk melihat sejarah komunikasi di dunia. Ada tiga era komunikasi yaitu diskursus rasional, mediakrasi, infokrasi. “Era infokrasi yaitu yang saat ini, adalah era di mana demokrasi mengalami kelumpuhan. Di era ini, individu tidak ada, kelompok juga tidak ada. Kita ada di masa terjadi komunikasi tapi tanpa komunitas,” bebernya.
Dampaknya, terjadi alienasi baru pada manusia. Manusia dianggap menjadi anomali algoritma di era digital. “Ini terjadi sebagai efek disembodiment,” ujarnya. Selain itu, nihilisme baru juga terbentuk sebagai akibat kehilangan iman akan kebenaran itu sendiri. “Setiap orang bisa mengemukakan kebenarannya sendiri,” tambahnya.
Menurutnya, antara manusia sebagai diri sosial dan dunia digital perlu adanya re-embodiment. “AI tidak bisa menggantikan pengalaman subjektif manusia,” pungkasnya. Makanya, menurutnya perlu bijak dalam menggunakan AI. “Pemakaian AI dalam riset humaniora membutuhkan re-embodiment untuk menghindari alienasi, reduksi makna, dan dehumanisasi,” simpulnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M. Hum. mengatakan kekagumannya terhadap sosok F. Budi Hardiman. “Saya waktu masih S1 sudah baca buku Kritik Ideologi yang ditulis oleh beliau. Di masa itu, nama F. Budi Hardiman tersohor di kalangan aktivis,” tuturnya. Andi Akhmar juga membeberkan bahwa beberapa penelitiannya mengutip tokoh yang juga pengajar di Universitas Pelita Harapan. “Kita ingin FIB mendorong kajian humaniora digital agar bisa berdampak pada masyarakat secara meluas,” tutupnya.

