FIB Unhas – Gema diskursus sastra dan sejarah memenuhi Aula Prof. Mattulada pada Senin siang, 29 September 2025. Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin menggelar kuliah umum bertajuk “Sastra Pascaperang: Konteks Indonesia dan Prancis”, yang menghadirkan dua perspektif budaya berbeda dalam merespons trauma kolektif melalui karya sastra.

Acara yang berlangsung pukul 13.00-15.00 WITA ini menghadirkan dua pembicara utama: Dr. Isadora Richou, seorang penerjemah dan peneliti sastra, serta Faisal Oddang, S.S., M.Hum., yang merupakan dosen sekaligus sastrawan. Kuliah umum ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III FIB Unhas, Dr. Wahyuddin, S.S., M.Hum. Dalam sambutannya, ia memberikan konteks yang tajam mengenai perbedaan latar belakang kedua negara.

“Konteks pascaperang di Indonesia adalah perjuangan setelah kemerdekaan dari kolonialisme. Sementara di Prancis, ia lahir dari kengerian Perang Dunia I dan II, sebuah masa ketika nyawa manusia seakan tak bernilai,” ujar Wakil Dekan yang merupakan alumnus Sorbonne University itu. Ia berharap perbandingan dua konteks ini dapat memperkaya wawasan para hadirin yang mayoritas adalah mahasiswa.
Meski dijadwalkan dipandu oleh Rezky Ramadhani, S.S., M.Litt., yang berhalangan hadir karena alasan kesehatan, diskusi tetap berjalan dinamis. Faisal Oddang mengambil peran ganda sebagai pembicara sekaligus moderator, memandu jalannya acara dengan apik. Diskusi mengalir, membedah bagaimana sastra menjadi ruang untuk merekam, mempertanyakan, dan bahkan menyembuhkan luka-luka sejarah.

“Sastra tidak hanya merekam, tapi juga menafsirkan ulang sebuah zaman,” ujar Faisal Oddang di sela-sela diskusi. “Melihat karya pascaperang dari Indonesia dan Prancis secara berdampingan memberi kita cermin, betapa cara manusia merespons tragedi bisa sangat universal, tetapi ekspresi budayanya tetap sangat personal.”
Kuliah umum ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari mahasiswa dan kalangan umum, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Acara ini menjadi bukti komitmen FIB Unhas dalam menyediakan ruang dialog intelektual yang relevan dan lintas budaya.


