FIB Unhas — Bagi sebagian besar akademisi di Indonesia, Scopus bukan sekadar pangkalan data pustaka. Ia kerap menjelma “hantu” menakutkan: dikejar demi syarat administratif, tetapi sering kali lolos dari genggaman akibat standar penulisan yang ketat. Kecemasan kolektif inilah yang coba diredam dan diubah menjadi energi produktif oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) melalui Academic Writing Programme.
Selama tiga hari berturut-turut, mulai Senin hingga Rabu (2-4 Februari 2026), Ruang Rapat Senat dan Lab Sejarah FIB Unhas berubah menjadi bengkel intelektual. Di bawah bimbingan Prof. Freek Colombijn, Ph.D., seorang antropolog dan sejarawan senior yang kenyang pengalaman publikasi internasional, para dosen dan peneliti muda FIB Unhas bukan diajarkan trik instan menembus jurnal, melainkan diajak kembali ke dasar: bagaimana membangun argumen dengan bukti yang kuat.
Kegiatan dibuka dengan paparan realitas akademik FIB Unhas oleh Dekan FIB Unhas, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum. Ia menyodorkan data blak-blakan mengenai situasi riset terkini fakultas, mulai dari jumlah sitasi hingga capaian publikasi yang melibatkan mahasiswa dari jenjang S1 hingga S3. Angka-angka ini menjadi latar belakang mengapa lokakarya ini krusial.
Namun, Prof. Freek buru-buru menegaskan bahwa tantangan utama peneliti Indonesia bukan semata-mata penguasaan topik. “Banyak orang memahami topiknya, tapi tidak mempublikasikannya,” ujarnya. Ia berbagi pengalaman pribadinya, mengingatkan bahwa dominasi bahasa Inggris dalam dunia ilmiah tak bisa dilepaskan dari sejarah imperialisme. Akibatnya, ada perbedaan gaya selingkung yang tajam. Jurnal Eropa mungkin menyukai detail yang “tebal”, sementara jurnal Amerika cenderung menyukai narasi makro, sebagaimana dikatakan Meta Sekar Puji Astuti, Ph.D. dalam lokakarya ini.
Salah satu diskusi paling menarik mencuat ketika Dr. Ida Liana Tanjung menyinggung peran kecerdasan buatan (AI) untuk mengatasi kendala bahasa. Moderator acara, Drs. Dias Pradadimara, M.A., memberikan catatan kritis yang tajam: kalimat pasif yang wajar dalam bahasa Indonesia, sering kali mematikan “kejelasan subjek” saat diterjemahkan ke bahasa Inggris. Dalam konteks akademik global, ketidakjelasan “siapa melakukan apa” bisa dianggap mengaburkan relasi kuasa. Pada titik ini AI bisa digunakan untuk membantu penulis.
Pada hari kedua dan ketiga, suasana berubah menjadi lebih teknis, tetapi intim. Peserta membedah draf artikel mereka dalam format peer-review. Topik yang diangkat sangat beragam, mencerminkan kekayaan riset di FIB Unhas.
Dr. Andi Faisal, misalnya, mengangkat topik tentang “Warung Kopi” di Makassar. Prof. Freek menyarankan agar Andi tidak sekadar mendeskripsikan warung kopi sebagai tempat nongkrong, melainkan menonjolkan aspek “demokrasi jalanan” di dalamnya. “Bandingkan dengan budaya kafe di Eropa untuk menarik minat pembaca internasional, tapi pertahankan rasa lokalnya,” saran Prof. Freek.
Di sudut lain, Faisal Oddang, M.Hum., membawa pendekatan segar lewat Digital Humanities dan metode pembacaan jauh (distant reading) karya sastra. Tantangannya unik: bagaimana menjelaskan istilah teknis komputasi agar tidak membingungkan pembaca sastra murni sambil tetap menjaga sentuhan humanisnya. Sementara itu, Dr. Dafirah yang meneliti tradisi Madingin-dingin di Selayar didorong untuk melakukan thick description agar pembaca asing tak terjebak pada eksotisme semata, tetapi memahami nuansa spiritual ritual tersebut.
Rangkaian Academic Writing Programme ini ditutup dengan sesi konsultasi mendalam pada Rabu (4/2). Prof. Freek kembali mengingatkan “jebakan” kalimat pasif yang menjadi penyakit umum penulis Indonesia. Ia menekankan pentingnya proofreading ketat untuk memastikan subjek kalimat aktif terlihat jelas—sebuah syarat mutlak standar jurnal internasional.
Pada akhirnya, lokakarya ini bukan hanya soal menembus jurnal Q1 atau Q2. Menyadur Ernest Hemingway, Prof. Freek mengatakan: “Menulis itu sulit, maka saya membuat menulis itu menjadi hal yang membahagiakan bagi saya.” Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni, Dr. Wahyuddin, M.Hum., yang turut mengawal kegiatan ini, berharap para peserta dapat segera merampungkan naskah finalnya untuk dikirim dalam tiga bulan ke depan. Dengan bekal argumen yang lebih tajam dan struktur IMRaD (Introduction, Methods, Results, Discussion) yang kokoh, “hantu” Scopus itu diharapkan tak lagi menakutkan, tetapi menjadi mitra dialog bagi sivitas akademika FIB Unhas di panggung global.










