Merawat Bahasa Daerah, Mengawal Kebijakan Publik: FIB Unhas dan BASAsulsel Wiki Gelar Changemaker Class Seri 10

FIB Unhas Suara anak muda kerap tenggelam dalam riuhnya perumusan kebijakan pemerintah. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggandeng BASAsulsel Wiki untuk menyelenggarakan lokakarya Changemaker Class Series #10 – Wikithon Partisipasi Publik 2026. Ruang Aula Prof. Mattulada pun disulap menjadi wadah adu gagasan pada Rabu (4/3/2026).

Mengawali agenda, Dekan FIB Unhas, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum, dalam sambutannya menekankan keharusan institusi pendidikan untuk luwes beradaptasi dengan laju zaman, seperti pemanfaatan media sosial dan website. Lebih jauh, ia membayangkan pengetahuan akademik dari Departemen Sastra Daerah dapat bertransformasi menjadi inovasi konkret, seperti menghadirkan situs web multibahasa yang mengintegrasikan bahasa Inggris, Indonesia, dan Makassar.

Dekan juga mengapresiasi pihak penyelenggara dan menyinggung kedekatan FIB Unhas dengan ekosistem kreatif, mengingat sebelumnya fakultas telah berkolaborasi dengan Rumata’ ArtSpace untuk memproduksi film dokumenter pada perayaan Dies Natalis ke-65.

Tujuan utama kegiatan ini bukanlah sekadar diskusi di atas kertas. Dalam sambutannya, Ita Masita Ibnu, S.E., M.Hum, Manager Program BASAibu Wiki-Sulsel, menegaskan bahwa pemuda harus berani merumuskan opini yang memengaruhi kebijakan, terutama pada isu perlindungan anak, krisis sampah, dan literasi digital.

“Jadi suara-suara anak muda, suara teman-teman mahasiswa ini perlu hadir dalam perumusan kebijakan, sehingga hasil ataupun tindakan yang dihasilkan oleh pemerintah itu betul-betul mencerminkan suara anak-anak muda,” tegas Ita.

Untuk membekali peserta, lokakarya ini menghadirkan Harnita Rahman, Direktur Kedai Buku Jenny, yang membedah tuntas materi tentang Critical Thinking, Persuasive Writing, dan Collaborative Problem Solving. Uniknya, argumentasi para mahasiswa ini dilatih untuk dikemas secara kreatif ke dalam bahasa Bugis, Makassar, Indonesia, hingga Inggris.

Komitmen untuk terus menghidupkan dialektika pemuda dan pelestarian bahasa ini diikat secara resmi melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Departemen Sastra Daerah FIB Unhas dan BASAsulsel. Pada akhirnya, ruang publik dan bahasa daerah bukanlah dua entitas yang terpisah; terlibat aktif mengawal isu sosial rupanya menjadi cara paling relevan untuk memastikan bahasa ibu kita tetap berdaya.

Bagikan

Berita Lainnya

Scroll to Top