FIB Unhas — Suara-suara akademik dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin turut berkontribusi dalam perbincangan sastra nasional dan internasional. Sejumlah dosen dari Departemen Sastra Indonesia FIB Unhas berpartisipasi aktif sebagai pemakalah dalam Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-34 yang digelar Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI).

Forum ilmiah bergengsi ini dihelat di Graha Wiyata Hall, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Surabaya, selama dua hari, Jumat–Sabtu (10–11/10/2025).
Delegasi FIB Unhas yang hadir meliputi Prof. AB Takko, Prof. Asriani Abbas, Prof. Nurhayati, St. Nursaadah, Indarwati, Faisal Oddang, dan Inriati Lewa. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, partisipasi kali ini menandai kontribusi penuh dari departemen tersebut.
“Tahun ini semua dosen Sastra Indonesia Unhas yang hadir menjadi pembicara atau pemakalah,” ujar Sekretaris Departemen Sastra Indonesia Unhas, Indarwati, yang turut hadir di lokasi.
KIK ke-34 mengusung tema besar “Sastra dan Aktivisme Sosial”. Tema ini dipilih untuk menyoroti bagaimana karya sastra merespons dan bergerak dalam isu-isu krusial seperti kemanusiaan, lingkungan, kesetaraan, hingga adaptasi teknologi digital.

Ketua Umum HISKI, Prof Novi Anoegrajekti, dalam sambutannya menegaskan bahwa konferensi ini bukan sekadar ajang akademik, melainkan bentuk tanggung jawab moral. “Sastra hari ini bergerak dalam ruang aktivisme… sebagai refleksi dari dunia yang terus berubah,” ujarnya.
Sebagai salah satu pemakalah, Indarwati mempresentasikan makalah berjudul “Membaca Tanda, Menjaga Tradisi: Eksplorasi Semiotik dan Pariwisata Budaya dalam Ritual Jeknek Sappara.”
Risetnya mengulas makna simbolik ritual di Desa Balangloe, Jeneponto, dengan pendekatan semiotik Chandler dan Geertz. Ia menemukan bahwa ritual tersebut merepresentasikan identitas budaya dan harmoni sosial, serta berpotensi dikembangkan sebagai wisata budaya partisipatif tanpa menghilangkan nilai sakralnya.

Kehadiran para dosen FIB Unhas dalam forum yang dihadiri ratusan partisipan ini menjadi bagian penting dari pertukaran gagasan dan penguatan jejaring riset kesusastraan di Indonesia. (*)

