FIB Unhas – Suasana akademik yang kental terasa di Ruang Senat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas pada Rabu, 25 Juni 2025. Panggung intelektual kali ini menjadi milik Emily Rose Logan, seorang mahasiswi doktoral asal luar negeri, yang dengan percaya diri mempertahankan disertasinya di hadapan tim promotor dan penguji.
Dalam sidang yang dipimpin oleh Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum., Emily memaparkan hasil penelitiannya yang bertajuk “Luwu Language and Identity: Perspectives of Vitality, Dialect Intelligibility and Morphology”. Disertasi ini mengupas secara mendalam hubungan antara bahasa dan identitas masyarakat Luwu di Sulawesi Selatan dari berbagai sudut pandang—vitalitas, pemahaman dialek, hingga keunikan morfologisnya.
Di bawah bimbingan Prof. Dr. Hamzah A. Machmoed, M.A., Prof. Dr. Akin Duli, M.A., dan Dr. Ikhwan M. Said, M.Hum., penelitian Emily memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi Bahasa Luwu saat ini. Salah satu temuannya yang menarik adalah tingginya tingkat saling paham (intelligibility) antara dialek pegunungan dan pesisir. Hal ini, menurutnya, memperkuat rasa identitas etnolinguistik yang tunggal di kalangan penutur. Selain itu, ia juga menyoroti jejak morfologis unik seperti infiks -um- yang mulai langka.

Lebih dari sekadar analisis linguistik, disertasi ini juga menyentuh aspek personal peneliti. Emily menuturkan bagaimana prosesnya mempelajari Bahasa Luwu secara langsung memberinya keuntungan dalam pengumpulan dan pengolahan data.
“Mempelajari Bahasa Luwu bukan sekadar proyek akademik, tapi sebuah perjalanan untuk memahami bagaimana sebuah komunitas merawat jiwanya,” ungkap Emily saat menggambarkan pengalamannya. “Penelitian ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan bahasa dan identitas. Saya sangat berharap pengembangan media berbahasa Luwu bisa menjadi jembatan bagi generasi muda untuk terus terhubung dengan akar budaya mereka.”
Atas risetnya yang mendalam, Emily Rose Logan berhasil mempertahankan disertasinya. Penelitiannya tidak hanya menjadi sumbangsih penting bagi dunia linguistik, tetapi juga memberikan rekomendasi konkret untuk upaya promosi dan pelestarian Bahasa Luwu di masa depan.


