FIB Unhas dan Pemkab Wajo Bersinergi dalam Pekan Budaya Wanua Tosora

FIB Unhas – Pekan Budaya Wanua Tosora kembali digelar. Kegiatan tahunan yang kali ini diusung dengan tema “Mapparewe Sumange Maradeka Naiya Makkiade” ini, menghadirkan rangkaian acara tradisi seperti Tudang Sipulung dan Mattomppang Arajang yang berlangsung pada Jumat, 26 September 2025, di Tosora, Kabupaten Wajo. 

Acara dibuka dengan sambutan Kepala Desa Tosora, Asri Prasak Mas’ud, S.Sos., yang menekankan pentingnya menjadikan Tosora sebagai kecamatan serta mendorong penetapan Tosora sebagai cagar budaya. Dukungan serupa disampaikan Camat Majauleng, Andi Parawangsyah, S.Sos., M.Si., yang menilai penguatan status Tosora menjadi langkah strategis bagi pelestarian sejarah dan pengembangan ekonomi berbasis wisata budaya.

Wakil Dekan III Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, Dr. Wahyuddin, S.S., M.Hum., yang hadir mewakili dekan, menyampaikan bahwa keberadaan Tosora penting untuk dipelajari tidak hanya dari sisi sejarah, tetapi juga dari nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. “Saya pertama kali mengenal Tosora dari literatur saat kuliah di Sorbonne University, Prancis. Hari ini, saya melihat langsung bagaimana Tosora menyimpan warisan yang berharga,” ungkapnya.

Wakil Bupati Wajo, Dr. H. Baso Rahmanuddin, M.M., M.Kes., menegaskan Tosora istimewa meski secara administratif belum memenuhi syarat menjadi kecamatan. Ia mengingatkan kembali bahwa Wajo pertama kali dideklarasikan di Tosora dengan sistem demokrasi perwakilan yang khas. Warisan peninggalan seperti Masjid Tua Tosora dan makam penyiar Islam, Said Jamaluddin Al Akbar Alhusain, menjadi bukti otentik nilai sejarah dan religi yang terjaga.

Menurut Baso, kegiatan budaya ini tidak hanya mengikat ingatan kolektif masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui wisata sejarah dan religi. Ia berharap Pekan Budaya Tosora kelak bisa melampaui skala lokal Wajo, menjangkau panggung nasional bahkan internasional, hingga pada gilirannya kekuatan dari nilai sejarah, budaya, dan religi itulah yang akan mendorong Tosora dapat diusung menjadi kecamatan dengan cara istimewah, melampaui syarat pada umumnya.

Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan sureq, menandai berakhirnya sebuah pekan budaya yang merayakan identitas Tosora sebagai pusat sejarah dan warisan pengetahuan Bugis.(*)

Bagikan

Berita Lainnya

Scroll to Top