FIB Unhas Kukuhkan Pengurus Perdana Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya

FIB Unhas — Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) mengukuhkan pengurus Ikatan Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya (I’MKB) FIB Unhas pada Senin, 26 Juni 2025, bertempat di Aula Prof. Mattulada. Pelantikan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah FIB Unhas karena untuk pertama kalinya program pascasarjana di lingkungan FIB memiliki wadah organisasi mahasiswa secara resmi.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Kajian Budaya, Dr. Andi Faisal, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa pendirian himpunan ini menjadi bukti bahwa program pascasarjana yang baru berusia beberapa tahun ini telah mulai menata sistem kelembagaan secara lebih terstruktur.

“Ketika saya pulang dari kunjungan ke UGM beberapa tahun lalu, Prof. Akhmar adalah sosok pertama yang menyuarakan secara terang-terangan pentingnya membuka Program Studi Kajian Budaya di FIB Unhas,” ujarnya. Menurutnya, keberadaan himpunan mahasiswa akan memberi ruang aktualisasi sekaligus memperkuat daya tarik program ini bagi calon mahasiswa di masa mendatang.

Dr. Andi Faisal, S.S., M.Hum. juga menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar kajian atas masa lampau. “Kebudayaan adalah bagian dari masa kini dan masa depan. Ia hadir dalam seluruh aspek kehidupan: politik, ekonomi, teknologi, dan relasi kuasa,” ucapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran organisasi kemahasiswaan di tingkat pascasarjana menjadi langkah penting dalam membentuk identitas intelektual Prodi Kajian Budaya di FIB Unhas. Ia menyoroti pentingnya mengembangkan karakter khusus program ini.

“Setiap kampus punya pendekatan dan kekhasan masing-masing dalam kajian budaya. Di UGM, misalnya, pendekatannya sangat kuat pada kajian media. Di FIB Unhas, kita perlu menentukan arah yang khas, agar pengembangan keilmuan kita relevan dengan kebutuhan masyarakat dan arah kebijakan universitas,” jelas Prof. Akhmar.

Ia juga membagikan refleksi personalnya mengenai perjalanannya sebagai akademisi. Berangkat dari studi Sastra Daerah di jenjang sarjana hingga meraih gelar doktor di bidang sastra, ia mengaku mulai membuka diri terhadap pendekatan kajian budaya setelah berinteraksi intens dengan kolega-kolega di bidang tersebut.

“Di titik itu saya mulai menyadari bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang hidup, terus dipraktikkan, ditafsirkan, bahkan menjadi ruang kontestasi politik, ekonomi, dan kekuasaan,” tuturnya. Ia juga menyebut bahwa meskipun secara administratif ia kini menyandang gelar Guru Besar dalam bidang Sastra dan Budaya, semangatnya tetap berada pada kajian budaya sebagai ruang refleksi dan perubahan sosial.

Dengan pelantikan ini, Ikatan Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya FIB Unhas diharapkan menjadi wadah pertumbuhan intelektual, kolaborasi, dan produksi wacana kritis lintas disiplin, sejalan dengan semangat FIB Unhas dalam memperkuat tradisi akademik berbasis budaya. (*)

Bagikan

Berita Lainnya

Scroll to Top