FIB Unhas — Morowali, Sulawesi Tengah, kini tak sekadar menjadi pusat gravitasi hilirisasi nikel nasional. Bagi dunia akademik, wilayah ini telah menjelma menjadi laboratorium nyata tempat teori bertemu dengan praktik industri. Semangat “link and match” inilah yang dibawa oleh rombongan Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam lawatan kerja selama dua hari, pada 4 hingga 5 Februari 2026.
Di tengah deru aktivitas industri yang masif, sebuah kesepakatan strategis lahir. Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis, Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, S.T., M.Phil., bersama Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum., hadir langsung untuk meresmikan sinergi dengan PT Shuoshi Indonesia Investment.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Agenda utamanya adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Hasanuddin dengan PT Shuoshi. Langkah ini menegaskan posisi Unhas yang kian responsif terhadap kebutuhan pasar kerja global, khususnya di sektor industri strategis yang melibatkan investasi asing.
PT Shuoshi Indonesia Investment bukanlah pemain kecil. Sebagai bagian dari raksasa bisnis Zhenshi Holding Group, perusahaan ini mengoperasikan lini produksi smelting nikel-besi dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Kapasitas tahunannya mencapai 1,05 juta ton, sebuah angka yang menuntut disiplin kerja tinggi dan operasional yang presisi.
Perusahaan ini memproduksi dan mengekspor feronikel ke Tiongkok, mendukung rantai pasok baja global. Dalam konteks inilah, peran bahasa dan pemahaman budaya menjadi krusial. Kehadiran teknologi tinggi tidak akan berjalan mulus tanpa komunikasi yang efektif antara tenaga ahli Tiongkok dan tenaga kerja lokal. Di sinilah mahasiswa FIB Unhas mengambil peran vital.
Puncak dari pertemuan ini adalah penandatanganan Perjanjian Pendanaan Beasiswa dan Layanan antara PT Shuoshi Indonesia Investment dengan empat mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok (BMKT) FIB Unhas.
Keempat mahasiswa terpilih tersebut adalah Queen Azizah Akmal, Andi Sah Alam Paris, Elia Parerung Tandi Datu, dan Nur Pratiwi. Dalam perjanjian ini, FIB Unhas turut serta sebagai Pihak Ketiga. Peran ini menempatkan fakultas sebagai fasilitator dan pengawas yang berkewajiban mendampingi para mahasiswa dalam aspek akademik, memastikan mereka dapat menyelesaikan studi dengan baik sembari mempersiapkan diri terjun ke dunia industri.
“Keterlibatan fakultas dalam perjanjian ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan akademik. Kami hadir untuk memastikan bahwa mahasiswa kami tidak hanya mendapatkan dukungan finansial, tetapi juga pendampingan akademik yang tepat jika mereka menemui kendala selama masa studi dan ikatan dinas nanti,” ujar Prof. Andi Muhammad Akhmar di sela-sela kegiatan.
Langkah ini dinilai strategis. Industri di Morowali membutuhkan SDM yang paham teknis sekaligus mampu menjembatani perbedaan budaya kerja antara Indonesia dan Tiongkok. Dengan beasiswa ini, PT Shuoshi tidak hanya berinvestasi pada dana pendidikan, tetapi sedang mencetak calon-calon profesional yang siap pakai.
Melalui kolaborasi ini, FIB Unhas sekali lagi menunjukkan bahwa dinding kampus tidak boleh membatasi mahasiswanya. Sebaliknya, kampus harus menjadi pintu gerbang yang mengantarkan mereka pada peluang-peluang besar di luar sana—termasuk di pusat industri nikel dunia di Morowali.













