Puluhan Pelajar Tampilkan Kemampuan Bahasa dan Budaya Mandarin dalam Chinese Bridge 2025 di FIB Unhas

FIB Unhas — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin kembali menjadi tuan rumah ajang prestisius yang menjembatani dunia pendidikan dan kebudayaan lintas negara. Bertempat di Aula Prof. Mattulada pada Jumat, 23 Mei 2025, kompetisi Chinese Bridge 2025 diselenggarakan dengan meriah. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai jenjang pendidikan di Sulawesi Selatan, mulai dari siswa SMP, SMA, hingga mahasiswa.

Kompetisi ini merupakan bagian dari seleksi wilayah menuju ajang Chinese Bridge tingkat nasional dan internasional, yang secara global diselenggarakan oleh Center for Language Education and Cooperation (CLEC) di bawah Kementerian Pendidikan Tiongkok. Sejak dimulai pada tahun 2002, program ini telah berkembang menjadi forum diplomasi budaya yang mempertemukan generasi muda dari berbagai bangsa melalui bahasa dan seni.

Di tahun ini, tiga kategori utama diperlombakan: pidato dalam Bahasa Mandarin, impromptu speaking, dan pertunjukan bakat yang menampilkan kekayaan budaya Tiongkok. Beberapa peserta menyanyi lagu tradisional, memainkan alat musik khas, menari, bahkan melukis. Antusiasme peserta terlihat jelas dari ekspresi dan penampilan mereka yang total. Sementara itu, para juri terdiri dari dosen Bahasa Mandarin, alumni kompetisi, dan perwakilan institusi kebudayaan Tiongkok.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Unhas, Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, S.T., M.Phil., menegaskan bahwa kegiatan ini memegang peran penting dalam upaya diplomasi pendidikan. “Kita tahu bersama di Sulawesi banyak sekali investasi-investasi Tiongkok yang hadir di sini. Tentu saja mereka berharap banyak kepada Unhas untuk bisa menjadi jembatan bagi industri-industri ini agar lebih produktif, dan memberikan dampak nyata bagi Sulawesi maupun Indonesia secara umum,” ujar Prof. Adi.

Ia juga menekankan potensi strategis kegiatan semacam ini dalam merajut relasi antarnegara melalui pendekatan budaya yang bersifat inklusif. Menurutnya, Chinese Bridge menjadi medium dialog antara pendidikan dan ekonomi, yang mampu mempertemukan kepentingan praktis dan nilai-nilai kebudayaan.

Senada dengan itu, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, M.Hum., menggarisbawahi bahwa FIB tidak hanya menjadi pusat pembelajaran budaya, tetapi juga memainkan peran sebagai simpul soft diplomacy. “Fakultas Ilmu Budaya adalah pintu masuk untuk belajar banyak hal, termasuk budaya sendiri, budaya negara lain, ekonomi, politik, dan kerja sama internasional. Kegiatan seperti ini bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk menjadi jembatan dalam hubungan antarnegara, termasuk antara Indonesia dan Tiongkok,” ucap Prof. Akhmar.

Lebih jauh, ia menilai bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kompetisi semacam ini bukan sekadar bagian dari aktivitas akademik, tetapi langkah konkret dalam membangun kesadaran global. “FIB Unhas mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menguasai bahasa, tetapi juga memahami konteks budaya yang melatarinya. Itulah modal utama dalam membangun komunikasi internasional yang sehat dan produktif,” tambahnya.

Keikutsertaan FIB Unhas dalam penyelenggaraan Chinese Bridge menunjukkan konsistensi fakultas ini dalam menjadikan budaya sebagai medium dialog lintasbangsa. Di tengah arus globalisasi yang kerap menajamkan perbedaan, inisiatif-inisiatif seperti ini membuka ruang untuk saling memahami, bertukar gagasan, dan tumbuh bersama.

Dengan menjembatani bahasa dan kebudayaan, FIB Unhas menegaskan komitmennya: membentuk generasi global yang tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga bijak mendengarkan dunia. (*)

Bagikan

Berita Lainnya

Scroll to Top