Mahasiswa S3 Ilmu Linguistik Melihat Jejak Poskolonial dalam Narasi Jepang di YouTube

Fakultas Ilmu Budaya – Kata bukan hanya rentetan huruf yang memiliki makna yang tetap. Sebuah kata bisa diinterpretasikan ke dalam banyak makna dan bisa konstruksi sebagai instrumen ideologis. Rudy Yusuf dalam sidang disertasinya yang berlangsung di ruang senat Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Rabu (6/8). Doktoral S3 Ilmu Linguistik ini menulis penelitian berjudul Strategi Ideologis dalam Representasi Jepang Pada Judul Video Youtube dan Resepsi Netizen Indonesia: Studi Wacana Kritis.

Rudy menggunakan beberapa pendekatan dalam menjawab rumusan masalah di dalam penelitiannya. Diantaranya linguistik terapan, analisis wacana kritis, interpelasi ideologis, dan encoding-decoding. Objeknya berupa judul dan komentar di saluran youtube Genki Banget dan Neo Japan.

“Kita bisa mendapati bahwa judul-judul video bekerja secara strategis untuk memanggil netizen ke dalam posisi ideologis tertentu,” terangnya. Dosen Departemen Sastra Jepang ini menyebutkan jika “panggilan” itu melalui pemilihan kata, struktur kalimat, dan afeksi.

Jepang dikonstruksikan sebagai entitas yang akrab. Mereka juga dianggap sebagai bangsa yang unggul dan aspiratif. Hal ini memperkuat citra positif yang mendukung dominasi simbolik dan relasi kuasa pascakolonial.

Representasi ideologis Jepang juga terlihat di komentar netizen. Mayoritas audiens menempatkan dirinya dalam posisi terhegemoni oleh narasi pesan yang disampaikan oleh konten dari kedua saluran itu. “Ini menandakan bahwa representasi ideologis tentang Jepang dalam konten video tidak hanya diterima tetapi juga diinternalisasi dan disesuaikan oleh netizen Indonesia,” simpulnya. Menurutnya, afeksi menjadi medium utama dalam menyamarkan ideologi, sedangkan algoritma YouTube berperan sebagai aparatus distribusi dan monetisasi ideologis.

Bagikan

Berita Lainnya

Scroll to Top